Cahaya di Tengah Isolasi: Rig Pertamina Drilling Jadi Penyelamat Warga Aceh Tamiang Pasca Banjir Bandang
ACEH TAMIANG – Di tengah gulita yang menyelimuti Kecamatan Rantau akibat putusnya aliran listrik dan jaringan komunikasi pasca banjir bandang, sebuah titik terang muncul dari area Rig PDSI#19.1. Fasilitas pengeboran milik Pertamina Drilling ini berubah menjadi pusat harapan bagi warga dari enam desa yang terisolasi.
Setiap malam, pemandangan tak biasa terlihat di luar area kerja rig. Ratusan warga mengantre dengan sabar membawa ponsel, powerbank, hingga lampu darurat. Bagi mereka, energi listrik bukan lagi sekadar kemudahan teknologi, melainkan penyambung nyawa untuk mengabarkan keselamatan kepada sanak saudara.
Intisari Berita: Mengapa Informasi Ini Penting?
-
Akses Energi Darurat: Pertamina Drilling membuka fasilitas pengisian daya gratis bagi warga di enam desa terdampak banjir.
-
Bantuan Logistik: Selain listrik, bantuan berupa makanan siap santap, sembako, dan air bersih disalurkan secara rutin.
-
Keamanan Operasional: Proses bantuan dilakukan di zona aman, di luar area teknis rig untuk menjaga keselamatan warga dan pekerja.
-
Pemulihan Wilayah: Rig PDSI#19.1 telah kembali beroperasi sejak 16 Desember 2025 setelah sempat shutdown akibat bencana.
Perjuangan Melawan Kegelapan dan Isolasi
Banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang sejak akhir November lalu menyisakan trauma mendalam. Siti (38), warga Desa Alur Cucur, menceritakan betapa beratnya hidup tanpa komunikasi.
“HP saya mati dua hari. Kami tidak bisa hubungi keluarga. Begitu dengar bisa ngecas di sini, rasanya seperti dapat kabar baik,” ungkapnya pada Minggu (21/12/2025).
Kondisi serupa dirasakan Rahmad (45). Baginya, lampu darurat yang diisi daya di rig tersebut adalah pengusir rasa takut bagi anak-anaknya saat malam tiba. “Kalau malam gelap sekali. Lampu emergency ini sangat membantu,” tuturnya.
Komitmen Kemanusiaan di Area Operasi
Rig Superintendent Pertamina Drilling, Surya Budiman, menjelaskan bahwa inisiatif ini muncul spontan melihat kondisi warga yang terputus dari dunia luar. Meskipun Rig PDSI#19.1 sempat berhenti beroperasi (shutdown) sejak 26 November hingga pertengahan Desember, kepedulian terhadap warga sekitar tetap menjadi prioritas.
“Kami hanya berusaha membantu sebisanya. Setiap malam ada lebih dari 100 orang dari Desa Alur Batu, Alur Cucur, Alur Manis, Landu, Tempel, dan Lumpuran yang datang,” ujar Surya. Ia menekankan bahwa aspek keselamatan tetap dijaga ketat dengan menempatkan titik pengisian daya di luar kawasan kerja aktif.
Lebih dari Sekadar Energi: Bantuan Pangan dan Air Bersih
Dampak banjir bandang tidak hanya memutus kabel listrik, tetapi juga mencemari sumber air warga. Menanggapi hal ini, Pertamina Drilling turut mendistribusikan:
-
Makanan Siap Santap: Dibagikan dua kali sehari untuk meringankan beban dapur warga.
-
Sembako & Air Mineral: Menjamin ketersediaan nutrisi di masa pemulihan.
-
Air Bersih: Membantu kebutuhan sanitasi warga yang sumurnya terdampak lumpur.
Yuliana (41), warga Desa Landu, merasa sangat terbantu dengan kehadiran bantuan ini. “Setidaknya kami tidak merasa sendirian menghadapi bencana ini,” katanya haru.
Topik Terkait: Mengapa Aceh Tamiang Rentan Banjir Bandang?
Selain faktor cuaca ekstrem, topografi wilayah dan kondisi hulu sungai menjadi perhatian serius pemerintah daerah dalam mitigasi bencana di masa depan. Peran aktif perusahaan di objek vital nasional seperti Pertamina terbukti menjadi pilar penting dalam Corporate Social Responsibility (CSR) saat situasi darurat nasional terjadi.









